Dunia Tanpa Memes

bisakah manusia berpikir tanpa unit budaya

Dunia Tanpa Memes
I

Pernahkah kita menyadari apa yang sebenarnya terjadi saat jari kita menggulir layar ponsel di malam hari? Kita tertawa melihat gambar kucing dengan tulisan salah eja. Kita membagikan video orang menari dengan lagu yang sama persis ke grup percakapan. Kita sedang mengonsumsi meme. Tapi, mari kita bermain dengan sebuah eksperimen pikiran sejenak. Bayangkan sebuah dunia di mana meme tiba-tiba lenyap tanpa sisa. Bukan cuma di internet, tapi lenyap dari muka bumi. Dunia yang sunyi dari gambar lucu, tren viral, atau ungkapan slang kekinian. Kedengarannya mungkin seperti dunia yang membosankan, atau bagi sebagian orang, malah terasa lebih damai. Namun, ada satu rahasia besar yang jarang kita bicarakan. Jika kita benar-benar menghapus meme dari eksistensi manusia, kita bukan sekadar kehilangan hiburan. Kita kehilangan seluruh kemampuan kita untuk berpikir. Ya, kedengarannya ekstrem. Tapi untuk memahami mengapa kiamat meme adalah kiamat bagi pikiran manusia, kita harus mendefinisikan ulang apa itu meme sebenarnya.

II

Untuk memahaminya, kita perlu mundur jauh sebelum internet diciptakan, tepatnya ke tahun 1976. Seorang ahli biologi evolusioner bernama Richard Dawkins menulis buku yang mengubah wajah sains berjudul The Selfish Gene. Dawkins menyadari sesuatu yang brilian. Ia melihat bahwa cara ide menyebar di antara manusia itu sangat mirip dengan cara genetik menyebar dalam biologi. Jika gen adalah unit dasar pewarisan biologis, maka harus ada unit dasar untuk pewarisan budaya. Dawkins menamai unit budaya ini mimeme, dari bahasa Yunani yang berarti "sesuatu yang ditiru". Agar lebih mudah diucapkan, ia menyingkatnya menjadi meme. Jadi, meme sejatinya adalah segala hal yang disebarkan lewat peniruan. Nada lagu Bintang Kecil, resep membuat nasi goreng, cara menjabat tangan, konsep tentang keadilan, agama, hingga ide tentang demokrasi—itu semua secara ilmiah adalah meme. Mereka hidup di dalam otak kita, melompat dari satu kepala ke kepala lain lewat ucapan, tulisan, dan tindakan. Sama seperti virus, meme yang kuat akan bertahan dan bereplikasi, sementara yang lemah akan dilupakan sejarah. Pertanyaannya sekarang, seberapa bergantung kita pada unit-unit budaya ini?

III

Mari kita kembali ke eksperimen pikiran kita dan mulai menekan tombol hapus. Pertama, kita hapus semua meme internet. Oke, kita masih bisa hidup normal. Lalu, kita hapus semua meme budaya pop: tidak ada lagi film, tidak ada musik, tidak ada tren mode. Kehidupan mulai terasa hampa, tapi kita masih bisa bekerja. Sekarang, mari kita melangkah lebih jauh dan menghapus meme tradisional: tidak ada lagi cara bertani yang diwariskan, tidak ada resep makanan, tidak ada aturan kesopanan. Dunia mulai kacau. Terakhir, kita tekan tombol hapus yang paling fatal. Kita hapus meme yang paling sukses dalam sejarah umat manusia: bahasa. Bahasa, pada intinya, adalah kumpulan suara dan simbol yang disepakati bersama dan ditiru dari generasi ke generasi. Tanpa bahasa, tanpa konsep yang diwariskan, apa yang tersisa di dalam kepala kita? Pernahkah teman-teman membayangkan bagaimana rasanya berpikir tanpa menggunakan kata-kata sama sekali? Bagaimana kita bisa merencanakan masa depan, atau mengingat pelajaran dari masa lalu, jika kita tidak memiliki unit-unit konsep untuk menyusun pikiran tersebut?

IV

Inilah realitas psikologis dan antropologis yang menakjubkan sekaligus mengerikan. Jika kita mencabut semua meme dari otak manusia, kita tidak akan menemukan pemikir bebas yang murni. Kita hanya akan menemukan primata yang sangat cerdas, namun telanjang secara kognitif. Pikiran kita akan terjebak dalam momen saat ini, merespons rasa lapar, takut, dan insting dasar biologis. Kita tidak akan bisa membangun peradaban, karena peradaban tidak lain adalah tumpukan meme yang diwariskan selama ratusan ribu tahun. Di sinilah letak kejutan besarnya: otak manusia, secara biologis, hanyalah sebuah hardware (perangkat keras). Memori, bahasa, ideologi, dan budaya—yakni meme—adalah software (perangkat lunak) yang membuatnya menyala. Kita sering berpikir bahwa kitalah yang menciptakan meme. Namun dari kacamata sains kognitif, justru meme-lah yang menciptakan kita. Kesadaran kita sebagai manusia modern, identitas kita, cara kita memandang dunia, semuanya dirajut dari ribuan unit budaya yang kita serap sejak kita lahir. Tanpa meme, konsep "saya" dan "kita" tidak akan pernah ada.

V

Mempelajari hal ini memberi kita sebuah kacamata baru yang penuh empati dalam melihat sesama manusia. Saat kita menyadari bahwa pikiran kita dibangun dari potongan-potongan budaya yang kita pinjam dari orang lain, kita menjadi lebih rendah hati. Kita adalah mozaik dari guru-guru kita, leluhur kita, teman-teman kita, dan bahkan orang asing yang tak pernah kita temui. Sejarah umat manusia bukanlah sekadar catatan tentang raja dan peperangan, melainkan kisah epik tentang meme yang bertahan hidup, berevolusi, dan menghubungkan pikiran miliaran manusia melintasi ruang dan waktu. Jadi, esok hari, ketika teman-teman melihat meme kucing lucu yang dikirimkan oleh seorang kawan di grup obrolan, jangan buru-buru mengabaikannya. Tersenyumlah. Sebab di balik gambar sederhana itu, terdapat keajaiban evolusi kognitif selama 300.000 tahun yang memungkinkan kita untuk terhubung, tertawa bersama, dan tetap menjadi manusia.